Honda tidak memberi warisan kepada anak Print E-mail
Written by Administrator   
Wednesday, 15 June 2005 16:18
Honda tidak memberi warisan kepada anak

Soichiro, 78 tahun, adalah pendiri Honda Motor. Ia juga mengenakan
seragam karyawan biasa di perusahaan, kemeja dan topi putih. Dia
lebih suka bekerja di bengkel, meskipun tersedia ruangan di setiap
perusahaannya. Sebelum pecah perang, ia pernah menjadi montir biasa.

Sedikit demi sedikit ia turut meletakkan dasar perusahaan. Sekarang
ia mengepalai 23.000 buruh dan membawahi 43 perusahaan di 28 negara
(enam ada di Jepang).

Anak buahnya diberi kepercayaan total dan tanggung jawab pribadi atas
apa yang dihasilkannya.

Soichiro tidak memiliki harta pribadi. Dia tinggal dalam sebuah rumah
sederhana. Kegemarannya melukis di atas kain sutra dan bermain golf.
Barangnya yang berharga cuma sebuah helikopter dan mobil biasa.
Penghasilannya dipakai untuk penelitian dan bea siswa kaum muda. Dia
bahkan tak memberi warisan kepada anak-anaknya.

"Warisan paling berharga yang dapat saya berikan adalah membiarkan
mereka sanggup berusaha sendiri," katanya.

Hadiah untuk gagasan yang paling baik

Kyoto Ceramics adalah salah satu pabrik pembuat microchips (elemen-
elemen kecil komputer) yang paling kuat di dunia.

Omset Kyoto Ceramics 400 juta dolar dan menghasilkan keuntungan luar
biasa, 12% setelah dipotong pajak.

Ada tujuh buah perusahaan di Amerika Serikat dan tiga di Jepang.
Inamori sang pemimpin, seperti juga Soichiro Honda dan Kaku pemimpin
Canon, menganggap dirinya sebagai karyawan biasa. Selisih gaji
direktur dan buruh baru di Jepang lebih kecil bila dibandingkan
dengan di Eropa dan Amerika Serikat.

Cara hidup pemimpin Jepang sangat sederhana dibanding dengan rekan-
rekan di Barat. Rasanya mereka memandang rendah kemewahan. Suatu
barang harus ada fungsinya.

Bagaimana mereka bisa memegang prinsip sebaik itu?

Mari kita menengok ke Gamo, salah satu pabrik keramik di Kyoto.
Kurang lebih 50 kilometer dari Kyoto. Di sini pada pukul delapan pagi
seluruh karyawan Gamo berkumpul dalam ruang-ruang besar. Dari tiap
ruang, di atas sebuah panggung seorang laki-laki meneriakkan:
berdiri, bersiap, luruskan kaki dan istirahat. Ratusan laki-laki dan
perempuan dalam seragam biru berdiri siap. Laki-laki lalu melaporkan
hasil pekerjaan bulan lalu dan menambahkan delapan pesan produksi,
tentang mutu, penurunan ongkos dan sebagainya.

Selesai laporan, dia memanggil lima orang maju ke depan. Mereka
diberi hadiah, karena telah menyumbangkan gagasan yang paling baik,
pada bulan sebelumnya. Di semua perusahaan Jepang, para insinyur dan
buruh diundang menyumbangkan gagasan untuk lebih memajukan
produktivitas, keamanan dan semua bidang yang berkaitan dengan
kehidupan perusahaan.

Di Canon, setahun yang lalu, masuk sekitar 146.242 gagasan yang
ternyata dapat menghemat lebih dari tujuh juta yen!

Sebulan sekali mereka berkumpul, memberi laporan pekerjaan selama
ini, bertukar pengalaman dan mutu pekerjaan mereka.

Hadiah bagi gagasan mereka yang terpilih antara lain medali, jam
tangan, tiket kereta atau pesawat terbang. Yang kurang berinisiatif
tak akan mendapat apa-apa. Tak pernah terjadi seseorang mendapat
sanksi negatif.

Setiap pekerja memiliki saham dan dividen dari perusahaan. Benar-
benar merupakan perwujudan demokrasi yang didasarkan pada penghargaan
hasil kerja dan atas hierarkinya. Di Jepang, persaingan ditumbuhkan
sejak kanak-kanak. Keluaran sekolah bereputasi tinggi lebih mudah
mendapatkan pekerjaan yang baik.

Di tiap perusahaan ada serikat buruh, yang setiap tahunnya
mengorganisir pemogokan untuk memperoleh kenaikan gaji yang disebut
Shunto. Tetapi Shunto ini cuma suatu upacara tradisi, bukan pemogokan
seperti layaknya di Barat.

Robot membuat robot

Di kaki Gunung Fuji ada robot membuat robot. Robot-robot itu bekerja
dengan diam-diam. Beberapa manusia membaca lembaran kertas besar yang
keluar dari terminal robot.
Di Honda Motor Cie, di sebuah dusun dekat Tokyo, kita bisa melihat
mobil yang di-assembling oleh robot, yang mematri 160 kali setiap
detiknya. Grup-grup yang terdiri dari lima atau enam buruh memeriksa
hasil kerja robot. Setiap buruh diizinkan menghentikan pekerjaan
dengan cara menekan tombol merah, bila ada yang kurang beres.

Hasilnya: pada produksi akhir hanya ada 0,1% yang apkir, dibanding
dengan 20% di Eropa. Di Sony, semua karyawannya teliti. Para majikan
di Eropa memimpikan pabrik mereka bisa menyamai Jepang, dan
mendambakan buruh-buruh yang serupa pula.

Di perusahaan Canon, Tuan Kaku yang adalah presiden direkturnya itu
dan para buruhnya, saling menundukkan kepala mereka sama dalamnya.
Percakapan antara mereka bisa membuat heran telinga-telinga Perancis.

Tuan Kaku menjelaskan secara mendetil target keuangan dan tehnik yang
ingin dicapai perusahaan. Kepala serikat buruh Canon meyakinkan
majikannya, keberhasilan Canon merupakan satu kepuasan bagi seluruh
karyawan dan mereka ingin bekerja sama sepenuhnya bersama direksi.

Majikan-majikan Eropa sangat kagum melihat modernisasi Jepang. Kagum
bukan hanya karena melihat sindikat-sindikat buruh dapat bekerja sama
begitu baik dangan majikannya, tetapi juga melihat para majikan yang
tak pernah memecat buruhnya itu.

Mereka melihat suatu industri di mana otomatisasi tidak menciptakan
pengangguran, dan setiap buruh mau dan dapat memahami apa pun yang
mereka lakukan. Mereka juga mendapat penjelasan mengenai jalannya
perusahaan. Yang nampak di depan mereka adalah sebuah dunia, di mana
disiplin yang mirip disiplin militer itu dapat berjalan berdampingan
dengan rasa hormat pada setiap individu. Inilah rahasia kemajuan
Jepang. (Paris Match/Intisari)