| Sindiran Untuk para Penyumbang |
|
|
| Written by Administrator | ||||
| Wednesday, 08 June 2005 14:58 | ||||
|
Para Penipu Di dalam sebuah cerpen karya Ahmad Tohari yang berjudul "Penipu Yang Keempat" (Kompas, 27 Jan 1991), diceritakan seseorang (sebagai si Aku) yang tertipu oleh tiga orang dalam sehari, dengan modus operandi yang berbeda-beda, dari penipuan seorang perempuan utusan sebuah yayasan pemeliharaan anak-anak yatim piatu komplit dengan surat-surat berstempel sebagai bukti jati dirinya, seorang lelaki yang menawarkan barang-barang buatan anak-anak penyandang cacat di kota Solo, hingga seorang lelaki dari Cikokol yang kehabisan uang dan harus segera pulang karena anaknya sedang sakit. Semua permintaan itu dipenuhi oleh si Aku tanpa banyak pertanyaan, tidak perduli benar tidaknya cerita si perempuan, palsu tidaknya surat-surat yang dibawa, ada tidaknya anak-anak penyandang cacat di Solo, adakah desa yang bernama Cikokol, apakah benar anak lelaki dari Cikokol sedang sakit dsb. Merasa perlu untuk mendapatkan petualangan terhadap salah satu penipu itu, si Aku berganti pakaian dan menuju ke pasar. Benar juga dugaannya bahwa lelaki dari Cikokol itu tidak akan pergi ke terminal untuk segera pulang menengok anaknya yang sedang sakit. Terlihat lelaki itu berkeliaran di sekitar pasar berusaha untuk mencari mangsa lainnya, tetapi kebanyakan mangsanya menghindar, hingga akhirnya lelaki itu mendekatinya. "Pak, maaf mengganggu, saya baru saja kena musibah, uang saya dicopet orang, padahal saya harus membeli obat untuk istri saya yang baru mel?", mendadak lelaki itu menghentikan kata-katanya, rupanya ia mengenali calon mangsanya, lelaki itu pun tersipu-sipu dan salah tingkah. Selanjutnya terjadi dialog sebagai berikut: "Maaf Pak, saya telah menipu Bapak dan mencoba akan mengulanginya" katanya agak gemetar. "Tenang, tenanglah orang Cikokol, sejak semula aku sadar dan mengerti sampeyan menipuku". "Bapak minta uang Bapak kembali?" "Hus! Yang kuminta adalah kelanjutan cerita tentang uang yang dicopet orang dan tentang istri sampeyan yang baru melahirkan" "Ah Bapak bisa saja. Bapak tentu tahu itu cerita akal-akalan?" Demikian si Aku mendapatkan petualangannya dan menikmati "seni" penipuan itu, serta di akhir cerita ditutup dengan kalimat "Namun apa jadinya bila orang Cikokol itu tahu, bahwa ada penipu lain yang jauh lebih pandai, yakni dia yang hari ini memberi uang empat belas ribu rupiah kepada tiga penipu teri. Dengan empat belas ribu itu dia berharap Tuhan bisa tertipu lalu memberkahi uangnya, tak perduli dengan cara apa uang itu didapat. Dan aku yakin hanya seorang penipu sejati bisa sangat menyadari akan kepenipuannya". *** Berkali-kali bahkan sering kita mengalami mirip-mirip kejadian di atas. Kita tidak punya cukup waktu untuk membuktikannya. Bermula dari prasangka baik, kita memberi tanpa banyak pertanyaan, selanjutnya kita tahu kalau sedang ditipu, tetapi rasa kasihan mengalahkan keengganan kita untuk memberi, apalagi kalau berhadapan dengan teman, tetangga, famili atau saudara dekat. Rasa sakit hati bisa kita kesampingkan dengan menghibur diri (reframing) bahwa dia berbuat begitu mungkin karena terpaksa didesak kebutuhan, atau tidak ada cara lain yang mampu dilakukan, atau mungkin hanya kita sebagai tumpuan harapan satu-satunya, atau biarlah dia menipu, kita anggap pemberian kita sebagai sedekah dan belum menjadi rejeki kita. Kita menduga pasti ia sangat puas dan bangga bisa menipu kita, namun kepuasan dan kebanggaannya tidak cukup berarti untuk menurunkan martabat kita, kita tidak merasa terhina karena sejak semula memang tidak merasa ditipu, kita hanya "berpura-pura" tertipu. Penipuan tidak hanya dilakukan kelas teri, yang kelas kakap pun tidak ketinggalan. Lihatlah penipuan massal yang dilakukan oleh "yang terhormat" para direktur bank-bank besar dan bonafid. Mereka menjanjikan hadiah yang begitu besar dalam rangka menjaring nasabah, namun prakteknya kurang fair, sudah menjadi rahasia umum bila hadiah itu hanya diberikan kepada nasabah-nasabah "istimewa" saja. Penipuan lainnya juga dilakukan oleh beberapa produsen berbagai barang/jasa melalui iklan-iklan di media massa, barang/jasa yang dipromosikan tidak sepadan dengan kualitas sebenarnya. Kita kasihan kepada penipu baik kelas teri maupun kakap, karena sudah jelas si penipu itu akan mendapatkan balasanNya. Tetapi bagaimana dengan kita, yang membiarkan penipuan itu dan menyadari sedang terjadi proses penipuan, bukankah itu yang disinyalir dalam cerpen di atas sebagai penipu sejati? Kita memang sulit menghindarkan diri karena kita berhadapan dengan kenyataan yang sifatnya "memaksa". Meskipun tahu penipuan itu, kita kurang mempunyai kemampuan untuk membuktikannya apalagi memberantasnya. Selama kerugian yang kita rasakan masih ringan, kita masih bisa mentolerirnya, tetapi kalau sudah sangat memberatkan, tentu jalur hukum yang akan kita tempuh. Saya menjadi ragu-ragu apakah penipu sejati apalagi sampai taraf bisa menikmati "seni" penipuan (biasanya dengan kerugian ringan) itu termasuk kategori berdosa? Kalau anda sama ragunya dengan saya, untuk mengurangi keraguan itu yang mungkin bisa kita lakukan adalah berusaha "membersihkan" niat, memohon ampun kepadaNya dan semoga apa yang telah kita berikan bernilai sedekah serta bisalah mendapat keberkahan. (Wis-17 April 2005). (Sumber penulisan -Resonansi)
|
||||
| Last Updated ( Wednesday, 08 June 2005 14:59 ) | ||||





