Kartini si Tukang Ojek Print E-mail
Written by Administrator   
Tuesday, 31 May 2005 14:53
Suwarni, Siap Tampil di Panggung maupun "Ngojek"

SUWARNI (42) boleh dibilang perempuan perkasa. Jebolan kelas V
sekolah dasar itu kini menggeluti empat pekerjaan sekaligus: pelawak,
tukang tambal ban, penjaga penitipan sepeda, dan tukang ojek.

TAHUN 1990 Suwarni tanpa sengaja mengikuti jejak suaminya, Piman
Onting (51), manggung sebagai pelawak. Pada saat itu kelompok lawak
tempat suaminya bergabung (Sidik cs) kesulitan mendapatkan pelawak
perempuan.

Tanpa bekal apa pun, Suwarni diajak naik panggung. Mula-mula ia
grogi. Namun, lama-kelamaan ia menikmati dan mampu mengimbangi lawan
mainnya. Kelompok lawak Suwarni sempat manggung di Taman Mini
Indonesia Indah Jakarta, Gedung Cak Durasim di Surabaya, dan
sebagainya.

Selain melawak, Suwarni juga membuka usaha tambal ban, penitipan
sepeda, dan menjadi tukang ojek. Semula usaha itu dirintis bersama
suaminya. Namun, tahun 1992 Onting terkena hepatitis dan tidak mampu
bekerja berat sehingga Suwarni harus mengerjakan sendiri.

SEBAGAI wiraswastawati gurem di dalam bidang usaha jasa tambal ban,
Suwarni melakukan langkah berani sekaligus unik. Ia memberi garansi
bagi pengguna jasa tambal bannya. Dengan stempel bentuk segitiga dia
menandai hasil pekerjaannya. Jika pekerjaannya tidak memuaskan,
pelanggan dapat datang kembali dan ia akan memperbaiki tanpa membayar.

"Alhamdulillah, sampai sekarang tidak ada pelanggan yang mengeluh.
Semua berjalan lancar. Pekerjaan istri saya menambal ban dapat
diterima pelanggan dengan baik. Saya bangga pada istri saya," ujar
Onting, yang kini lebih memusatkan perhatian pada pekerjaannya
sebagai pelawak dan usaha jasa perantara alias makelar.

Suwarni nekat menjadi tukang ojek karena pekerjaan ini menjanjikan.
Di daerahnya, Donokerto, Kecamatan Tarik, Kabupaten Sidoarjo, banyak
orang membutuhkan ojek untuk pergi dari satu desa ke desa lainnya
karena kendaraan angkutan masih terbatas.

Sebagai tukang ojek, Suwarni mengaku beruntung dengan situasi
tempatnya mangkal. Teman-teman sesama tukang ojek bersikap sopan.
Bahkan di antara mereka ada kesepakatan, apabila penumpangnya
perempuan, Suwarni yang akan mengantar.

Apabila penumpangnya pria, maka tukang ojek laki-laki yang mengantar.
Situasi ini mendukungnya untuk tetap bertahan sebagai tukang ojek
perempuan satu-satunya di kawasan itu.

Dari hasil menambal ban, penitipan sepeda, dan ngojek, setiap hari
Suwarni memperoleh pendapatan Rp 30.000 hingga Rp 50.000. Sedangkan
dari melawak bersama suami dan kelompoknya, mereka mendapat sekitar
Rp 600.000 hingga Rp 1 juta tiap kali manggung, yang dibagi untuk
lima orang.

KEHIDUPAN penuh perjuangan itu membuahkan penghargaan yang tidak
pernah terbayangkan sebelumnya. Suwarni terpilih dari 15 nominator
untuk mendapat Kartini Award 2005, 21 April lalu di Surabaya.

"Bu Warni terpilih mendapatkan Kartini Award karena dedikasinya
kepada keempat pekerjaannya tanpa meninggalkan perannya sebagai ibu
dan istri. Dia mampu membagi waktu dengan baik dan tetap memerhatikan
sisi keperempuanannya," ujar salah satu juri dari Pusat Studi Wanita
Universitas Airlangga Surabaya, Sri Endah Nurhidayati.

Acara yang diselenggarakan oleh Surabaya Plaza Hotel ini sudah
berlangsung untuk ke-11 kalinya. Nominasi dilakukan bekerja sama
dengan pusat studi wanita yang ada di pelbagai universitas di Jawa
Timur serta masyarakat luas karena diumumkan juga lewat radio.

Kebolehan Suwarni melawak ditampilkan sesaat setelah menerima Kartini
Award. Bersama suami dan kelompok lawak mereka, Suwarni berperan
sebagai perempuan yang pada awalnya diisengi oleh sekelompok laki- laki.

Akhir cerita ditutup dengan kata-kata Suwarni bahwa laki-laki saat
ini harus menghormati kaum perempuan. Kedudukan perempuan dan laki- laki, baik di pekerjaan maupun di kehidupan, bukan lagi sebagai
atasan-bawahan, tetapi mitra yang saling mendukung.

Kata-kata ibu dari tiga anak itu bukan hanya sebatas kata-kata,
kehidupan seperti itulah yang saat ini dijalaninya. Dia bersama sang
suami bahu-membahu menghidupi keluarga yang dibangunnya. Mereka
berjuang dan bekerja didasari rasa tanggung jawab untuk
mempertahankan kualitas pekerjaan.

SUWARNI merasakan kerja keras sejak masih kecil. Dia kehilangan
ayahnya saat masih kanak-kanak, kemudian tinggal dengan ibu tirinya.
Tahun 1980 Suwarni menikah dengan Onting yang lulusan sekolah
menengah pertama (SMP).

Dengan menjalani empat pekerjaan sekaligus, Suwarni ingin mengantar
anak-anaknya ke jenjang kehidupan yang lebih baik. "Saya ingin mereka
sekolah setinggi-tingginya, dan berhasil meraih cita-cita," harap
Suwarni tentang anak-anaknya.

Anak sulung Suwarni, Sri Irawati Ningsih (20), lulus sekolah menengah
atas (SMA) dan langsung bekerja. Ia memilih bekerja dan memberi jalan
bagi adik-adiknya untuk melanjutkan pendidikan, mengingat kesulitan
ekonomi orangtuanya.

Sedangkan anak kedua, Joko Basuki (19), duduk di kelas II SMA dan
bercita-cita menjadi tentara. Anak ketiga, Ria Agustin (18), masih
duduk di kelas I sekolah menengah ekonomi atas (SMEA) dan ingin
melanjutkan ke perguruan tinggi.

Uang tunai hadiah Kartini Award senilai Rp 1,5 juta rencananya akan
dibelikan kompresor. Selama ini Suwarni menggunakan pompa tangan
untuk menunjang pekerjaannya menambal ban. Karena itu, Onting
berinisiatif membeli kompresor untuk mempermudah pekerjaan istrinya.

Suwarni, perempuan tegar itu, masih menyimpan satu keinginan yang
hendak diwujudkannya, yaitu memiliki warung jamu di dekat tempat
penitipan sepeda miliknya. Peluang-peluang kecil namun pasti seperti
inilah yang ingin ditangkapnya. (AGNES SUHARSININGSIH)
 
Sumber: Kompas - Rabu, 25 Mei 2005