| Kentungan Yang Menyelamatkan |
|
|
| Written by Administrator | ||||
| Tuesday, 07 February 2006 16:36 | ||||
|
Kentungan Selamatkan Ratusan Nyawa Malam beberapa saat lagi akan datang, tetapi suasananya sudah sangat gelap karena mendung bergayut tebal dan matahari tertutup awan. Hujan turun tiada henti sejak siang dan petir terdengar bersahut- sahutan. Penduduk Dusun Pengajaran, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, yang bermukim di tepi Sungai Brangkal, sudah sangat khawatir sebab permukaan air sungai yang lebarnya sekitar tiga meter terus naik. Air sungai yang asalnya keruh kini mengental karena bercampur lumpur. Sesekali terlihat batang pohon dari lereng Gunung Anjasmoro setinggi 2.277 meter yang hanyut terbawa arus sungai. Di tengah kekhawatiran penduduk, dari bagian atas dusun yang terletak di hulu Sungai Brangkal, terdengar kentungan bambu yang dipukul bertalu-talu tiada henti. Semakin lama bunyi kentungan semakin keras karena hampir setiap rumah membunyikan kentungan. Mendengar bunyi itu penduduk Dusun Pengajaran, Desa Galengdowo, Kabupaten Jombang, langsung berlari meninggalkan rumah mereka dan lari ke arah bukit. Orang tua, ibu-ibu, anak-anak, semuanya berlari menembus hujan deras sambil terus membunyikan kentungan bambu. Harta benda dan perabotan rumah tangga tidak mereka hiraukan, yang penting selamatkan nyawa terlebih dahulu. Begitu pula penduduk Desa Medowo, Kabupaten Kediri, yang terletak di seberang Sungai Brangkal. Ketika mendengar kentungan di dusun tetangganya, mereka ikut-ikutan naik ke atas bukit. Mereka pun kemudian mengingatkan warga yang lain dengan juga membunyikan kentungan. Langkah ini efektif. Hanya beberapa menit setelah penduduk dua kabupaten yang dipisahkan Sungai Brangkal berada di atas bukit, banjir bandang menerjang. Air Sungai Brangkal yang asalnya tenang mendadak naik setinggi lima meter. Air Sungai Brangkal yang mengamuk juga membawa lumpur, batu-batu besar, dan batang-batang pohon dari hutan di Gunung Anjasmoro. Demikian hebatnya banjir yang membawa batu dan pepohonan itu, rumah- rumah yang diterjanginya pun roboh dan hanyut. "Tercatat 21 rumah serta satu gereja hanyut akibat diterjang banjir bandang yang terjadi Selasa petang tersebut," kata Camat Wonosalam, Kabupaten Jombang, Santoso. Banjir bandang juga menyebabkan 14 rumah di sisi kiri Sungai Brangkal yang masuk Kabupaten Jombang dan 40 rumah di sebelah kanan yang masuk wilayah Kabupaten Kediri hancur, tak berbentuk lagi. Banjir menyebabkan tiga jembatan roboh. Sementara itu, lebar Sungai Brangkal yang semula tiga meter dalam sekejap berubah menjadi 10 meter dengan menyapu habis rumah-rumah yang ada di sisi kiri- kanannya. Meski banjir bandang tergolong sangat hebat, sekitar 430 penduduk yang mendiami Dusun Pangajaran, Kabupaten Jombang, dan 421 penduduk Dusun Ringin Agung, Kabupaten Kediri, selamat. Tak ada korban jiwa seorang pun baik di Kabupaten Jombang maupun Kediri. Bahkan tak ada warga yang luka berat, kecuali luka ringan karena terantuk batu atau tergores dahan pohon. "Selain karena pertolongan Tuhan, semua ini tidak terlepas dari kentungan. Begitu melihat air sungai naik dan menghanyutkan pepohonan warga di bagian hulu memberi tahu dengan membunyikan kentungan," kata Ponidi (70), tokoh masyarakat Desa Galengdowo, Jombang. Tak mau terulang Mengapa penduduk Desa Galengdowo dan dan Desa Medowo memilih kentungan? Menurut sejumlah penduduk, pada tahun 1990 desa mereka pernah dilanda banjir akibat meluapnya Sungai Brangkal, kendati tak sehebat sekarang. Desa mereka memang rawan bencana karena persis berada di lembah Gunung Anjasmoro dan berada di sisi kiri dan kanan Sungai Brangkal. Dalam bencana tahun 1990 memang tak ada korban jiwa. Namun, berbekal pengalaman tahun 1990, penduduk berinisiatif mencari cara paling efektif menyelamatkan jiwa di saat terjadi bencana semacam itu. Dan, cara yang dipilih adalah membunyikan kentungan. Penduduk juga ternyata menggunakan kentungan untuk mengumpulkan massa dan memberi tahu adanya kematian dengan memukul kentungan, tetapi tentunya dengan nada-nada tertentu. Jika keadaan darurat, kentungan dipukul terus-menerus, yang berarti penduduk harus mengungsi ke arah ketinggian. Pilihan penduduk desa itu sangat tepat. Tanpa instruksi, apalagi pelatihan dari pemerintah, mereka bisa menyelamatkan keluarga masing- masing dengan cara yang sangat sederhana. "Biarkan saja harta hilang, yang penting semua keluarga selamat," kata Ny Sumargi (42) yang bersyukur karena semua keluarganya selamat meski rumahnya hanyut terbawa banjir. Kentungan ternyata telah menyelamatkan ratusan nyawa. (D02/NUT) Sumber: Kompas - Kamis, 26 Januari 2006
|
||||





